Penderitaan Rohingya di Balik Foto Jasad Bocah 16 Bulan

Posted by On 11:18 PM with No comments

Muhammad Shohayet Yang Tewas Saat Hendak Mengungsi Dari Myanmar (Sumber: Metro.co.uk)

Dream - Mulut dunia seolah terkunci ketika foto Aylan Kurdi, foto bocah pengungsi Suriah yang jasadnya terbujur kaku di pinggir pantai Turki. Kematian bocah itu membuka mata dunia tentang perjuangan warga Suriah keluar dari negara yang berkecamuk oleh perang. 

Namun tak jauh dari Indonesia, sesosok bocah dengan wajah tertelungkup lumpur diam, tak bergerak. Bocah itu baru berusia 16 bulan. Namanya, Muhammad Shohayet. Dia mungkin salah satu korban termuda dalam konflik Rohingya di Myanmar.
Zafor Alam, sang ayah sengaja mengabarkan foto itu kepada dunia. Sang buah hati tewas saat hendak mengungsi dari Myanmar. Shohayet meregang nyawa saat berusaha melarikan diri dari Myanmar untuk menyeberang ke Bangladesh.

Tubuh Muhammad ditemukan tertelungkup di atas lumpur setelah ia dan keluarganya mencoba untuk menyeberangi Sungai Naf. Tetapi, perahu mereka tenggelam. Hanya ayahnya, Zafor Alam, yang berhasil sampai ke Bangladesh.
Zafor menceritakan bagaimana kejamnya pemerintah dan militer Myanmar terhadap kaum Muslim Rohingya yang tinggal di desanya.
" Di desa kami, mereka menembaki dari udara dan darat. Kakek dan nenek saya dibakar sampai mati. Seluruh desa kami dibakar oleh militer. Tidak ada yang tersisa.

" Ketika saya melihat foto Muhammad, saya merasa seperti saya lebih baik mati. Tidak ada gunanya saya hidup di dunia ini. Saya hanya ingin dunia tahu. Pemerintah Myanmar tidak boleh dibiarkan bertindak terlalu lama. Jika kalian tidak bertindak sekarang, mereka akan membantai seluruh orang Rohingya," kata dia kepada CNN.

Tanggapan Pemerintahan Myanmar

Muslim Rohingya mengaku, mereka mendapat perlakuan yang tidak berperikemanusiaan dari militer Myanmar. Sehingga, mereka tidak memiliki pilihan, selain mengungsi.
Dilansir dari Metro.co.uk, kelompok hak asasi manusia mengatakan kasus Muslim Rohingya ini bisa berujung pada aksi genosida. Tetapi, pemerintahan Myanmar pimpinan Aung San Suu Kyi tersebut membantah tuduhan kekejaman yang dilakukan militer terhadap Muslim Rohingya pada Rabu kemarin.
Peraih Nobel Perdamaian itu menolak tuduhan militer telah bertindak kejam. Meski ada video yang menunjukkan tentara menendang dan memukul warga desa di Rakhine.
Selain menolak tuduhan telah melanggar HAM, pemerintahan Suu Kyi juga tidak mengizinkan wartawan independen dan pekerja bantuan kemanusiaan mengakses Rakhine bagian utara yang merupakan basis Muslim Rohingya.

Biasnya Hasil Penyidikan

Di bawah tekanan internasional, Suu Kyi akhirnya memerintahkan sebuah komisi untuk menyelidiki dugaan serangan dan tuduhan tindak kekerasan terhadap Muslim Rohingya.
Tetapi, seperti yang diperkirakan oleh Wakil Direktur Human Rights Watch untuk kawasan Asia Phil Robertson, komisi tersebut membuat laporan yang berusaha 'menutupi' pelanggaran HAM oleh militer Myanmar. Robertson mengatakan, " Sungguh luar biasa komisi tersebut bisa menyimpulkan bahwa Muslim Rohingya tidak dianiaya berdasarkan pada kehadiran masjid yang masih utuh."
Sementara itu, pendiri kelompok pegiat kemanusiaan Fortify Rights Matthew Smith, mengatakan laporan yang dibuat komisi bentukan Suu Kyi sangat bertolak belakang dengan pengakuan warga sipil di bagian utara Rakhine dan mereka yang mengungsi ke Bangladesh.
" Tentara telah melakukan kejahatan dan kekejaman, sementara komisi tersebut mencoba menutupi. Kementerian yang dipimpin oleh Suu Kyi sengaja membuat penolakan dan melancarkan kampanye propaganda yang memalukan," tulis Smith melalui email kepada CNN. (Sah)

Silahkan Like Halaman Fanspage Kami :

loading...
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
:)
:(
=(
^_^
:D
=D
|o|
@@,
;)
:-bd
:-d
:p